Senin, 06 Mei 2013

Kanopi di Trotoar Meningkatkan Kenyamanan

 
kanopi UGM 
                        
Di lihat dari kampus UGM Pembuatan kanopi ini sebagaimana konsep educopolis yang ada dalam Rencana Stratejik UGM yaitu adanya kanopi di trotoar. Untuk itu guna menunjang sarana konservasi UNNES bisa menambahkan sarana adanya kanopi untuk memberikan prioritas kenyamanan sekaligus keamanan bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda di lingkungan kampus. Disamping melengkapi kanopi pada jalur yang sudah ada saat ini direncanakan nantinya akan dibuatkan pula jalur baru. Jalur baru diharapkan akan lebih memudahkan akses bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda untuk melintas/ menuju unit kerja lain bisa lebih mudah dan efesien.

Mungkin ungkapkan konsep pembuatan kanopi sampai saat ini direspon cukup bagus baik dari civitas akademika. Bahkan beberapa fakultas meminta agar dibangunkan kanopi ini. Dalam pengamatannya komunikasi mahasiswa antar Fakultas kian terjalin erat ketika ada jalan yang menghubungkan antar fakultas.
Pastinya para mahasiswa yang biasa berjalan kaki menyambut baik program pembuatan kanopi akan nyaman dan sejuk ketika berjalan di bawah kanopi.

Dengan kanopi khususnya pejalan kaki sudah tidak akan lagi dipusingkan dengan panas akibat sengatan sinar matahari atau kehujanan. Disamping itu suasana kampus pun kian cantik dan nyaman dengan adanya kanopi tersebut.


Jumat, 03 Mei 2013

Adanya Taman di Fakultas Akan Menyejukan

Kampus bisa menampilkan berbagai dekorasi modern di bagian manapun seperti Taman Fakultas Minimalis. Dalam membuat taman fakultas yang minimalis, dengan tidak hanya menempatakannya di bagian depan seperti pada umumnya. Namun juga bisa memanfaatkan lahan yang minimalis dengan desain yang menarik. Konsep taman seperti ini memang banyak di sukai masyarakat di perkotaan karena di kota tidak banyak lahan yang untuk pembangunan taman. Oleh karena itu dengan adanya taman maka akan terkesan lebih sejuk suasana kampus.

Pada dasarnya konsep taman yang dibuat di lahan yang minimalis ini tidak beda jauh dengan taman yang berlahan luas. Namun taman yang terdapat di bagian-bagian ini konsepnya lebih sederhana jika dibandingkan dengan taman taman yang ada di sekitar Rektorat. Taman cenderung didesain dengan lebih rumit tapi hasilnya memang lebih menarik. Karena taman ini lebih banyak dan lebih sering dilihat orang. Tapi bukan berarti, taman fakultas minimalis yang terletak di setiap Fakultas akan didesain dengan asal-asalan. Karena tujuan untuk membuat taman adalah menciptakan pemandangan yang indah bagi yang melihatnya dan juga bisa buat untuk menenangkan pikiran mahasiswa. Oleh karena itu dekorasinya pun harus menarik walaupun dengan lahan yang minimalis. Taman Fakultas minimalis tidak membutuhkan lahan yang memungkinkan untuk dibuat taman. Walaupun lahan tersebut sempit, namun desain taman fakultas ini bisa ditata dengan sedemikian rupa agar tetap terlihat cantik. Dapat di buat dengan desain taman dengan berbagai pusat objek penglihatan yang menarik, seperti patung seni, pot besar dengan desain artistik dan kolam ikan kecil.

Dengan adanya taman Fakultas ini tidak hanya berfungsi sebagai pemanis di Fakultas Teknik. Selain pemandangannya yang indah, taman ini juga mmeberikan nuansa fakultas yang sehat. Sekarang ini, polusi udara di mana-mana seperti di kebanyakan daerah perkotaan. Dengan adanya taman di area fakultas, supply oksigen yang bersih dapat diperoleh. Karena taman pada fakultas dapat menghasilkan udara yang bersih dari hasil fotosintesis. Selain itu juga lebih mudah mendapat inspirasi dengan melihat suasana hijau dan segar dari taman tersebut. Dan juga bisa untuk dudukan bersama teman-teman ataupun untuk berdiskusi pastinya akan lebih menyenangkan di lakukan di ruan terbuka yang menyejukkan.

Jadi  untuk itu di bikinlah Taman di Fakultas dan ini juga merupakan upaya konservasi sesuai dengan UNNES.

Upaya untuk menunjang sebagai Kampus Konservasi

Infrastruktur/Bangunan
  • Campus Center
  • Gedung Kuliah Umum
Bangunan ini menggunakan desain arsitektur unik yang memanfaatkan lahan semaksimalnya untuk ruang kelas.

Fasilitas Publik

  • Parkir
  • Papan Publikasi
  • Ruang Terbuka Hijau, Green Open Space
    • Taman
    • Ruang terbuka Hijau dalam kampus
    • Taman botani


Jumat, 26 April 2013

Pemanfaatan Lahan

                                 

Efisiensi penggunaan lahan di lingkungan kampus juga perlu mendapat perhatian. Idealnya harus ada perimbangan antara luas bangunan dengan ruang terbuka hijau. Minimal 30% lahan kampus sebaiknya dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Selama ini ada kecenderungan bahwa banyak lahan-lahan di lingkungan kampus yang belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan cenderung ditelantarkan atau dibiarkan sebagai lahan tidur (sleeping land) atau ruang hilang (lost space). Padahal bila lahan yang ada dimanfaatkan bagi berbagai macam tanaman, termasuk tanaman produktif misalnya buah-buahan akan memberikan manfaat ganda. Disatu sisi tanaman dapat mendaurulang gas-gas CO2 di udara, sekaligus menghasilkan udara segar (oksigen) yang memberikan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya, yang berarti juga akan mengurangi pemanasan global, Sebagai kampus konservasi seharusnya bisa memanfaatkan lahan dengan menami pohon-pohon yang berbuah karena tanaman buah-buahan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga kampus,  jangan Cuma hanya menanami pohon-pohon jati atau pohon-pohon besar saja. Dan juga ini merupakan melestarikan dan memanfaatkan keanekaragamn hayati.  Disamping itu dengan adanya vegetasi/tanaman dapat memberikan nilai estetika/keindahan tersendiri bagi lingkungan kampus.

Ruang Terbuka Hijau Meningkatkan Kualitas Mahasiswa

                                         
      Saat kita memperhatikan lingkungan kampus-kampus Universitas di Indonesia maka mungkin hasilnya akan bertolak belakang dengan saat kita membayangkan lingkungan kampus di negara-negara maju. Membayangkan para mahasiswa kita duduk di bawah pohon-pohon hijau dan beralaskan rumput yang segar, atau membayangkan para mahasiswa melepaskan lelah setelah kuliah di kelas, mengistirahatkan otak mereka dari tumpukan teori sambil bermain bola, atau permainan lainnya di lapangan hijau sangat mungkin jarang kita lihat.

     Penelitian yang dilakukan oleh McFarland dkk., (2008) dari Texas State University, San Marcos, TX., yang berjudul Relationship Between Student Use of Campus Green Spaces and Perceptions of Quality of Life yang telah dipublikasi pada jurnal ilmiah HortTechnology, 18: 196-319 membuktikan bahwa terdapat korelasi yang sangat nyata antara ruang terbuka hijau di kampusnya dengan kualitas hidup, termasuk kualitas akademik para mahasiswa tersebut.
     
     Berturut-turut sebanyak 66,8% dan 24,1 % mahasiswa termasuk pengguna “rutin” dan “medium” ruang terbuka hijau di kampus. Hanya sedikit (9,1%) mahasiswa yang “jarang” menggunakan ruang terbuka hijau di kampus. Menariknya, pengguna menengah dan rutin ruang terbuka hijau di kampus (yaitu total 90,1%) menunjukkan persepsi yang sangat positif terhadap kualitas hidupnya. Mereka dikelompokkan pada kelompok yang sangat optimis terhadap kehidupannya.

     Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengguna medium dan rutin terhadap ruang terbuka hijau di kampus memiliki pengalaman affektif (emosional) dan kognitif (intelektual) yang sangat baik. Kriteria yang diukur dalam penelitian ini antara lain adalah dimensi affektif, interaksi antar mahasiswa, interaksi mahasiswa dosen, dan beberapa domain kognitif lainnya. Secara umum dikatakan bahwa mahasiswa yang menggunakan ruang terbuka hijau di kampus mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menghadapi tantangan pembelajaran dibandingkan dengan yang tidak atau jarang menggunakan fasilitas ruang terbuka hijau.

     Menariknya, saat mahasiswa diminta pendapat sendiri, ada yang mengatakan bahwa “being outside on campus puts me in calm mood” (berada di luar kelas membuat saya berada dalam atmosfir yang tenang). Mahasiswa lain menulis “grass and plants are pretty and relaxing, concrete is not relaxing” (rumput dan tumbuh-tumbuhan adalah indah dan relaks, beton-beton sama sekali tidak relaks).

    Lingkungan yang baik sudah terbukti memberikan pengaruh yang sangat positif terhadap kualitas hidup. Kaplan dan Kaplan (1989) melaporkan bahwa individu yang memiliki akses terhadap lingkungan alami akan lebih bahagia terhadap rumahnya, pekerjaannya, dan hidupnya secara keseluruhan. Beberapa penelitan telah menunjukkan bahwa interaksi dengan alam terbukti meningkatkan kesehatan psikologis dan fisiologis, termasuk peningkatan pengendalian diri dan penurunan kadar stress. Lebih lanjut, Zampini (1994) menagatakan bahwa keberadaan tumbuh-tumbuhan di sekitar kita dapat meningkatkan kepuasaan hidup secara ekonomis, sosial, budaya, dan fisik.